Implementasi BIM pada Rumah Sakit Darurat Covid-1920 Mei 2020 | Dibaca 276 kali

Kehadiran Building Information Modelling (BIM) dipandang sangat perlu apabila kita berkaca pada sejarah masa lalu yang harus diperbaiki. Sistem penyimpanan data yang tidak rapi, dispute antara tenaga ahli, keharusan melakukan reworks, dll. Keharusan integrasi tersebut seiring juga dengan sektor infrastruktur yang semakin gencar ke depan nanti. Sebuah pekerjaan akan semakin komplek, dengan tuntutan visualisasi yang semakin nyata serta dengan tetap mengedepankan semangat efektif dan efisiensi. Hal ini membuat kita semua yang berkecimpung di bidang infrastruktur membutuhkan BIM sebagai jawaban atas tantangan tersebut.

Pada Rabu (20/5), Balai Penerapan Teknologi Konstruksi Ditjen Bina Konstruksi, sebagai ujung tombak BIM PUPR untuk memberikan pelatihan-pelatihan yang teraktual, mengadakan “Webinar Implementasi BIM pada Proyek PT Wijaya Karya” yang mengambil contoh pada dua proyek yang dikerjakan Wika. Kepala Balai Penerapan Teknologi Ditjen Bina Konstruksi Cakra Nagara mengungkakan bahwa merupakan hal yang sangat penting untuk kita dapat mendengarkan lesson learned terkait implementasi BIM dari BUMN yang sudah sangat berpengalaman di lapangan.

“Kami sangat mengapresiasi WIKA dan harapannya dalam waktu dekat juga kita bisa berkolaborasi untuk mengadakan pelatihan yang bersifat advanced. Hal ini untuk menjawab banyak sekali permintaan terkait webinar-webinar yang kita lakukan, khususnya di masa pandemik ini,” ujar Cakra.

“Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Konstruksi memiliki strategi terkait capacity building di era modern bidang jasa konstruksi, antara lain dengan menggunakan distance learning Sibima Konstruksi, Building Information Modelling atau BIM, serta program magang konstruksi, yang sayang sekali karena Covid-19 harus sedikit tertunda.”

Selanjutnya Rezza Munawir sebagai moderator webinar memberikan kesempatan kepada Romi Ramadhan, BIM Manager Wijaya Karya yang mengungkapkan bahwa pada awalnya Wika hanya eksklusif menggunakan satu software BIM tertentu saja, namun seiring waktu, Wika mendapatkan tugas untuk membangun berbagai macam proyek yang tidak hanya terkait infrastruktur saja, tapi juga masuk kepada proyek gedung, atau industri.

“Ibaratnya seperti handphone, mahal belum tentu powerful, yang murah belum tentu inferior. Semua ada kemampuan masing-masing. Sehingga kami sekarang open BIM,” kata Romi.

“Selain itu, kami juga memiliki katalog produk dari anak perusahaan kami yakni Wika Modular yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam BIM. Dari katalog tersebut, BIM nantinya bertugas untuk mengkolaborasikannya dengan kenyataan di lapangan terkait kebutuhan prosedur ataupun spesifikasi. Dan terkait storage untuk data, kami memilih untuk menyediakan sendiri, karena untuk BIM ini memang membutuhkan kapasitas besar dan sistem keamanan yang sangat khusus.”

“BIM Wika juga terus berupaya memanfaatkan media sosial seperti YouTube, Instagram, dan Twitter untuk menyebarluaskan informasi tentang BIM. Diharapkan dengan mengajak masyarakat untuk semakin pintar, hal tersebut juga bisa menjadi amalan bagi kita semua,” ujar Romi.

Berikutnya, salah satu engineer BIM Wika, Rizky Yusuf Ramadhan mempresentasikan mengenai “BIM Implementation on NPI Hospital RSPP Pertamina Simprug Jakarta Project”. Rizky mengatakan bahwa yang melatarbelakangi proyek ini adalah kondisi pandemik yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kita.

“Pandemi Covid-19 yang hadir dan menyerang hampir seluruh dunia tentu mengakibatkan sektor kesehatan mengalami tantangan yang besar. Untuk di Indonesia, salah satu tantangan yang paling berat adalah terbatasnya kapasitas rumah sakit yang dapat menangani jumlah pasien yang terjangkit. Peningkatan kapasitas rumah sakit akan sangat bermanfaat untuk flattening the curve atau upaya memperlambat penyebaran virus Covid-19.”

“Berdasarkan latar belakang tersebut, Pemerintah memberikan tugas kepada Wika untuk dapat "menyulap" 2 hektar lapangan sepak bola yang ada di kawasan Universitas Pertamina Simprug menjadi sebuah rumah sakit darurat. Rumah sakit yang direncakanan bisa digunakan awal Juni nanti akan menyediakan 300 tempat tidur dan 35 ruang ICU dengan sistem Negative Pressure Isolation room agar keberadaan virus di rumah sakit tersebut dapat lebih dikontrol.“

“Terkait integrasi BIM pada proyek tersebut, kami memanfaatkannya pada beberapa unsur. Pertama tentu pada segi 3D model rumah sakit. Pada awal koordinasi, hanya dalam waktu 6 hari, Wika mampu menghasilkan 1 gambar model penuh. Kedua, terkait sharing data. Dengan konsistensi format data yang telah disepakati, akan mempermudah pekerjaan yang dilakukan baik itu saat berada di lapangan maupun di kantor/rumah.”

“Ketiga, dari segi project insight akan mempermudah semua pihak untuk melihat schedule maupun cost dari setiap fase yang sedang dikerjakan, dan yang terakhir adalah BIM membawa kemudahan kita untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada dengan lebih smart dan cepat,” terang Rizky.

Berikutnya, engineer lainnya yakni Iwan Kusumo membawakan materi tentang “Proyek High Speed Railways Jakarta Bandung: Stasiun Halim”. Dalam proyek ini, BIM sangat bermanfaat tidak hanya terkait modelling saja tapi juga dari segi value engineering dari segi efisiensi.

“Pada stasiun Halim ini kami memanfaatkan BIM pada struktur, arsitektur, dan MEP. Salah satu yang sangat kami manfaatkan adalah clash report yang bisa sangat cepat tersampaikan. Misalnya, ketika terjadi clash antara floor drain (waste water) dengan pier dan pilecap, atau clash antara clean water dengan balok dan kesalahan APAR.”

“Fitur Open Comment juga sangat bermanfaat, yang berarti kita bisa secara langsung memberikan komentar dan masukan kepada tim proyek dan konsultan sehingga mempermudah koordinasi,” ujar Iwan.

Saat menutup webinar, Romi mengungkapkan bahwa dukungan terkait implementasi BIM ini telah dilakukan oleh jajaran Pimpinan di Wika melalui arahan untuk wajib penerapan BIM sejak 2019. Namun, hal ini memang tidak mudah. Oleh karena itu, sembari terus memperkuat semua lini untuk dapat mengadaptasi BIM, pada beberapa proyek memang tidak menggunakan BIM secara full. Jadi terdapat perbedaan terkait konteks kedalaman pemanfaatan BIM di setiap proyek, ada yang menggunakan full BIM, namun ada yang modelling dan analisis saja.

Pemanfaatan BIM tentu kita harapkan dapat digunakan di setiap infrastruktur, serta dapat dilakukan oleh semua stakeholder terkait infrastruktur, mulai dari owner, kontraktor, maupun konsultan. Terkait hal ini, kita tentu menyadari masih panjang jalan yang perlu kita lalui untuk menuju BIM maturity yang diharapkan. Memang bukan jalan yang mudah, namun tentu bukan hal mustahil. (gal)