Tantangan Digitalisasi Konstruksi untuk Milenial Teknik Sipil Indonesia13 November 2019 | Dibaca 52 kali

Sosialisasi terkait implementasi BIM pada proyek infrastruktur terus dilakukan oleh Tim BIM PUPR. Kali ini, Tim BIM PUPR mendapatkan kesempatan untuk memaparkan pandangan mengenai pentingnya penerapan BIM di depan rekan-rekan Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (FKMTSI). Bertempat di Universitas Negeri Jakarta (13/11), ratusan perwakilan mahasiswa teknik sipil dari seluruh Indonesia hadir di ruang serbaguna Gedung Ki Hadjar Dewantara UNJ.

Tim BIM PUPR dipimpin oleh Sekretaris Badan Litbang PUPR, Herry Vaza, yang menyampaikan paparan bertajuk “Pemanfaatan Teknnologi BIM dalam Konstruksi Indonesia”. Dalam paparannya, Herry mengungkapkan bahwa permasalahan dalam proyek konstruksi merupakan hal yang kerap menjadi momok bagi seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengerjaan infrastruktur.

“Tak jarang terjadi proyek konstruksi yang dikerjakan ulang dan memerlukan pengulangan pengukuran dan testing ulang. Hal ini tentu memberi dampak keterlambatan dan kerugian dari segi margin keuntungan. Dengan BIM hal ini bisa dihindari,” ujar Herry.

Herry juga menyinggung soal evolusi teknologi digital yang membantu pekerjaan konstruksi. Beliau menyampaikan pengalamannya ketika dulu di awal-awal berkecimpung di dunia infrastruktur masih menggunakan peralatan yang serba konvensional.

“Evolusi perangkat dan alat bantu pembangunan berupa digitalisasi ditandai dengan semakin banyak dan variatifnya aplikasi penyelengaraan infrastruktur, yang awalnya bersifat closed standalone hingga akhirnya muncul teknologi BIM yang mengusung prinsip kolaboratif,” tambah Herry.

Selain BIM, beberapa teknologi digital juga sudah menjadi hal yang lumrah diterapkan pada proses pembangunan. Big 5 BUMN Karya, Badan Usaha Swasta, maupun akademis sudah menggunakan AR/VR/MR, BIM, UAV dan fotogrametri untuk mapping, dan 3D Laser Scan karena memang dirasakan sangat membantu pekerjaan mereka. Industri konstruksi di luar negeri bahkan sudah lebih massif menggunakan teknologi-teknologi berbasis 4.0. Hal ini juga diadopsi beberapa BUMN karya, bahkan sudah ada BUMN yang sedang menjajaki pengembangan 3D Printing untuk pembangunan rumah.

Herry menutup paparannya dengan beberapa catatan menarik terkait akselerasi pemanfaatan teknologi digital di dunia konstruksi. Yang pertama, diperlukan paradigma baru dalam pembangunan infrastruktur PUPR menggunakan teknologi digital mulai dari fase perencanaan, pembangunan, hingga ke pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur. Teknologi yang dihasilkan bersama dengan user dan industry akan mendukung bergeraknya sektor manufaktur. Dan yang terakhir, kehadiran kaum milenial dalam industri konstruksi digital sangat diperlukan sebagai motor perubahan, hal ini juga diikuti tantangan pengelolaan dan pembinaan SDM konstruksi oleh seluruh pihak. (gal)