Implementasi BIM di Indonesia untuk Proyek Bangunan Gedung31 Agustus 2019 | Dibaca 422 kali

Jakarta - Membangun bangunan gedung memang sudah menjadi pemandangan yang lumrah di kota besar. Hampir ratusan proyek gedung dibangun dalam waktu bersamaan. Untuk itu percepatan teknologi di Indonesia dalam bidang perencanaan dan konstruksi menggunakan Building Information Modeling (BIM) sangat diperlukan.

Kementerian PUPR sebagai Kementerian yang membidangi Bangunan Gedung memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung Revolusi Industri 4.0 menggunakan BIM, hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri PUPR No. 22 Tahun 2018 dan sesuai dengan UU. No.2 Tahun 2017 tentang jasa konstruksi pasal 5 ayat (5) bahwa “Pemerintah pusat memiliki kewenangan mengembangkan standar material dan peralatan konstruksi serta inovasi teknologi konstruksi”.

Selain itu peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), telah dilakukan oleh Kementerian PUPR melalui Dirjen Bina Konstruksi serta dukungan dari asosiasi lainnya. Sebagai salah satu bentuk dukungan untuk percepatan, Ikatan Nasional Tenaga Ahli Nasional Indonesia (INTAKINDO) mengadakan kegiatan Workshop Peningkatan Kapasitas melalui Pelatihan Building Information Modeling (BIM) selama 2 hari, dan dilakukan pada 30 - 31 Agustus 2019.

Kepala Pusat Pengembangan Sarpras Pendidikan, Olahraga, dan Pasar (PSPPOP) Ditjen Cipta Karya, Iwan Suprijanto hadir sebagai salah satu Narasumber mengatakan bahwa “teknologi BIM mampu merencanakan time schedule sehingga dapat memangkas waktu, mendesain dengan akurasi, efisiensi dan presisi yang tinggi, cost estimation, melakukan energy analysis building, building life, Operation and Maintenance Cost, serta dapat meminimalisir kesalahan dalam perencanaan dan konstruksi, karena penggunaan BIM menekankan pada kolaborasi antar ahli dan sektor”.

Penerapan BIM di lingkungan Kementerian PUPR saat ini mulai dilakukan pada Bangunan Gedung Negara (BGN) dengan luas diatas 2000 m2 dan diatas dua lantai, sebagaimana tertera pada lampiran Permen PUPR No. 22 Tahun 2018. BIM digunakan dari tahap perencanaan sampai dengan konstruksi, bahkan dapat digunakan pada tahapan operation and maintenance. Kebijakan teknologi BIM dapat meminimalisasi dampak dari terlambatnya pekerjaan, penambahan biaya, serta kegagalan konstruksi. Penerapan tersebut telah dilakukan dan diinisiasi pada pembangunan BGN di lingkungan Ditjen Cipta Karya dalam beberapa proyek antara lain Renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno, Renovasi dan pengembangan stadion Manahan Solo, Pembangunan Pasar Atas Bukittinggi di Sumatera Barat, serta Stadion dan Aquatic Arena untuk PON Papua dan BGN lainnya.

Kepala Pusat PSPPOP, sangat mendukung kegiatan Workshop BIM ini karena selain untuk kelancaran bagi pembangunan bangunan gedung, hal ini merupakan bagian untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari Konsultan yang ada di Indonesia juga agar memiliki daya saing yang tinggi, “Guna mendukung SDM unggul, Indonesia Maju” sebut Kapus PSPPOP, Ditjen CK, pada kesempatan yang lain. Pada akhirnya implementasi dari BIM mendukung konstruksi digital Indonesia untuk meningkatkan kualitas ekonomi dan daya saing Indonesia. (PSPPOP-CK)