BIM : Bekerja Lebih Cerdas dengan Kolaborasi27 Agustus 2019 | Dibaca 106 kali

Mengusung tema ‘Work Smarter with BIM Collaboration’, seminar yang diselenggarakan atas hasil kerjasama antara APPLICAD Indonesia dan ARCHILANTIS pada hari Selasa (27/8) di Auditorium Perpustakaan Nasional, sukses menghadirkan para professional BIM di Indonesia untuk membahas platform kolaborasi yang ada pada software BIM, khususnya pada fase desain dan bagaimana proses integrasi dengan software lainnya.

Hadir sebagai keynote speaker mewakili Kepala Badan Litbang PUPR, Adji Krisbandono (Kasubid Kajian Kebijakan, Puslitbang KPT), dan Kharis Alfi (Ketua Institut BIM Indonesia, BIM Manager PT Waskita Karya). Pada sesi selanjutnya, hadir pula beberapa praktisi BIM, seperti Ahmad Shiddiq (Founder & BIM Profesional dari SKALA Akademi dan Attaya Arsitek), Arddhanu Zunanto Hadhi (BIM Coordinator Wika Gedung), dan Amy Rachmadhani Widyastuti (PDW Architects). Mereka menyampaikan bahwa penggunaan BIM di Indonesia sudah tertinggal dari negara-negara tetangga (Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand). Meskipun demikian, dengan adanya dukungan kebijakan dari Kementerian PUPR dalam bentuk regulasi BIM, rencana dibentuknya Komite BIM di tingkat nasional oleh Bappenas, dan lain-lain, diharapkan dapat meningkatkan antusiasme para profesional di bidang arsitektur, engineering, dan konstruksi (AEC) untuk memulai menggunakan dan menerapkan teknologi BIM pada setiap proyeknya.

Disampaikan juga bahwa saat ini, secara luas di dunia, BIM telah mendapatkan popularitasnya dengan dukungan hadirnya trend teknologi-teknologi terkini, diantaranya yaitu konsep simulasi 4D, 5D hingga 7D; Internet of Things (IoT); 3D Laser Scans & Drones; 3D Printing; Mobile Cloud Applications; Mix Reality; Open BIM Collaboration, dan lain-lain. Teknologi tersebut dapat membantu para arsitek dan kontraktor dalam mengoptimalkan rancangan desain dan eksplorasi kreatifitas yang lebih luas lagi. Selain itu, dengan kemampuan platform data (IFC & BCF) yang dimilikinya, juga dapat memudahkan proses komunikasi antara arsitek dan kontraktor dalam meminimalisir adanya misinformasi, miskomunikasi, yang berakibat pada kesalahan/kegagalan konstruksi.

Pada intinya, perubahan yang terjadi secara global telah menghadirkan kesempatan bagi arsitek, insinyur dan kontraktor untuk memperbarui perangkat bisnisnya dan mengadopsi perangkat serta alur kerja yang baru. Melalui penggunaan BIM ini, Tim AEC juga dapat secara bersama-sama mengatasi tantangan desain yang kompleks, mendirikan bangunan gedung yang berkualitas tinggi, serta proyek-proyek infrastruktur dengan lebih cerdas, cepat, serta biaya yang lebih efisien. Tentu saja, nilai tambah keahlian BIM yang dimiliki oleh arsitek, insinyur dan kontraktor tersebut dapat meningkatkan daya saing dan jual mereka. (Zia)