Tim BIM PUPR dukung Pemanfaatan BIM pada Proyek Infrastruktur PUPR Yogyakarta21 Desember 2018 | Dibaca 215 kali


Pada Rabu (21/12), Puslitbang KPT melalui Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman Kementerian PUPR mengadakan pelatihan/ training pengenalan Building Information Modeling di DI Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan penunjang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di balai tersebut. Adapun training ini ditujukan kepada Seluruh Dinas dan Satker PU yang ada di Provinsi DIY. Narasumber yang terlibat dalam training ini yaitu Achmad Irsan dari Universitas Islam Indonesia serta Dimas Hastama Nugraha dari Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman dan dimoderatori oleh Nino Heri Setyoadi.

Mochamad Mulya Permana, selaku Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman, dalam sambutannya mengatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 telah dimulai dan BIM ini merupakan salah satu perwujudannya. Building Information Modeling (BIM) merupakan salah satu teknologi di bidang AEC (Arsitektur, Engineering dan Konstruksi) yang mampu menampilkan simulasi seluruh informasi di dalam proyek pembangunan ke dalam model 3 dimensi. Di Indonesia memang masih terbatas penggunaannya, yakni baru sebatas BUMN tertentu dan swasta, namun untuk kedepannya Mulya optimis bahwa BIM akan mulai dirintis oleh pelaku usaha konstruksi di DIY dan sekitarnya.

Sementara Achmad Irsan dalam presentasinya memaparkan tentang definisi BIM, bagaimana BIM dijalankan serta apa yang sebaiknya dilakukan oleh dunia konstruksi di Indonesia agar mampu mendorong penerapan BIM di semua aspek, baik aspek perancangan, konstruksi, maupun Operasi dan Pemeliharaan. Selain itu, Achmad Irsan juga menampillkan gambar-gambar serta produk keluaran BIM.

Untuk kasus BIM di Indonesia, memang masih perlu didorong ke arah yang lebih baik dan harus melibatkan Pemerintah, Kontraktor dan Akademisi. Training- training center di berbagai Universitas perlu didirikan sebagai knowledge center bagi mahasiswa, kontraktor maupun masyarakat yang ingin belajar. Satu hal yang pasti, BIM bukan hanya belajar mengenai software authoring BIM, tetapi yang seharusnya adalah mengerti apa itu BIM, yakni menyangkut proses, metode dan hasil yang bukan hanya menampilkan gambar dalam bentuk 3 dimensi saja

Pada kesempatan berikutnya, Dimas Hastama Nugraha menampilkan studi kasus BIM di pekerjaan MCK Plus di Kabupaten Pulau Morotai di Maluku Utara. Dalam presentasinya, Dimas menampilkan fitur-fitur seperti project location, menghitung volume, collison detection dan lainnya. Selain itu juga ditampilkan BIM X sebagai sarana untuk mempermudah pengerjaan di lapangan. Keuntungan  dengan menggunakan BIM di lapangan yaitu dapat menghitung secara cepat volume pekerjaan yang ada serta dapat mendeteksi clash/ persinggungan antara bagian bangunan.

Para peserta, seperti dari Satker PBL serta satker lainnya, terlihat sangat gembira dan antusias terhadap kegiatan BIM ini dan berminat untuk belajar lebih lanjut ke depannya dengan para praktisi. Beberapa peserta bahkan baru pertama ini mendengar BIM dan ingin terlibat lebih jauh mengenai BIM ini kedepannya untuk proyek- proyek yang mereka kerjakan. Permasalahan urgent di proyek PBL yang dapat diselesaikan dengan cepat oleh BIM misalnya bagaimana cara menghitung volume secara tepat dan cepat. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi perkembangan BIM di Yogyakarta dan sekitarnya. (dhn)